Majalah Energi, ...untuk masa depan yang lebih baik...
INTI dan T-Files Produksi Turbin Arus Laut
Wednesday, 16 May 2012 11:46

>Produksi Turbin Arus Laut
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) berencana membangun marine current turbine atau turbin pembangkit listrik dengan memanfaatkan arus laut. Usaha ini merupakan lini bisnis baru di sektor energi terbarukan bagi PT INTI. Irfan Setiaputra, Direktur Utama PT INTI menyatakan, untuk merealisasikan rencana itu, perusahaannya bekerjasama dengan PT T-Files selaku pemilik hak cipta. PT INTI mendapatkan kontrak pemasaran eksklusif dari pembangkit arus laut itu selama lima tahun.
PT T-Files adalah perusahaan binaan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan dari ITB (LPIK-ITB). Sekitar 10 persen saham T-Files dimiliki oleh ITB, dan sisanya dimiliki swasta, yaitu alumni muda ITB yang berasal dari berbagai displin ilmu.
Sebelumnya, turbin arus T-Files ini terpilih sebagai pemenang Mandiri Technopreneur Award 2011 di bidang energi terbarukan dari CSR Bank Mandiri, dan memeroleh hadiah pembinaan sebesar Rp 50 juta, serta seed capital sebesar Rp 1,5 miliar rupiah yang dapat diperoleh bila diimplementasikan langsung di masyarakat. Lanjut Irfan, pihaknya sudah menghitung biaya investasi yang dibutuhkan untuk pembangkit itu. Irfan optimis, pembangkit arus laut itu bisa diterima pasar dalam negeri.
"Pembangkit ini bisa dipakai industri yang berdekatan dengan laut, termasuk untuk PLN dan pemerintah daerah yang butuh listrik murah," ujar Irfan. Penandatangan kerja sama dilakukan di PT INTI pada Jumat 3 Februari 2012, oleh Dirut PT T-Files, Nurana Indah Paramita dan Irfan Setiaputra, yang disaksikan langsung Menneg BUMN, Dahlan Iskan.
Dalam kesempatan itu, Dahlan menyambut baik kerja sama ini. Ia berpesan, untuk melakukan studi kelayakan dan penelitian intensif dalam melakukan instalasi pembangunan pembangkit listrik tenaga arus laut, agar disesuaikan dengan kondisi wilayah laut yang akan dibangun.
Sumber: kontan.co.id, inti.co.id.
Artikel Lainnya
Resiko Cybersecurity Jaringan Listrik Amerika Serikat
Wednesday, 09 May 2012 11:47

>Future of the Electric Grid
Saat ini jaringan listrik Amerika Serikat merupakan target utama dari serangan cyber, demikian sebuah peringatan dari laporan studi yang berjudul Future of the Electric Grid dari Massachusetts Institute of Technology. Kerentanan keamanan cyber (cybersecurity) bisa muncul dari adanya kelemahan disisi personil, proses, teknologi dan lingkungan fisik yang sebenarnya.
"Jutaan perangkat elektronik yang berkomunikasi akan memperkenalkan jenis serangan baru, ini bisa menjadi jalan penyerang untuk mendapatkan akses ke sistem komputer atau peralatan komunikasi lainnya," tulis laporan studi itu.
Dengan adanya peningkatan risiko dari gangguan komunikasi yang disengaja ataupun tidak disengaja, dapat menyebabkan hilangnya kontrol atas perangkat-perangkat jaringan listrik antara entitas grid dengan pusat kendali.
Risiko cybersecurity, bisa berasal dari kesalahan atau gangguan data rahasia yang diubah saat komunikasi peralatan lapangan dengan kantor pusat. Pelanggaran data rahasia, dapat memberikan informasi untuk kegiatan teroris, seperti mengungkapkan kabel listrik yang penting untuk distribusi tenaga listrik, menunjukkan rumah yang kosong ataupun pencurian identitas dan spionase perusahaan.
Federal Energy Regulatory Commission and North American Electric Reliability Corp menangani pengembangan standar dan compliance cybersecurity untuk sistem pembangkit listrik, namun di sisi lain tidak ada lembaga tunggal yang menangani isu-isu cybersecurity untuk sistem distribusi jaringan listrik.
Pemerintah federal harus menunjuk badan tunggal yang memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan industri dan memiliki otoritas mengatur secara tepat dan cepat untuk meningkatkan kesiapan, respon dan pemulihan cybersecurity di sektor tenaga listrik, termasuk sistem pembangkit dan sistem distribusi.
Sumber: energy-daily
Insect Cyborg Dengan Bio-Fuel Cell
Tuesday, 08 May 2012 12:42

>Insect Cyborg
Sekelompok peneliti dari Case Western Reserve University melaporkan bahwa reaksi kimia pada serangga (kecoa) dapat dikonversi menjadi listrik yang cukup untuk melistriki perangkat sensor, perangkat rekaman atau bahkan untuk mengontrol kecoa itu sendiri.
Temuan ini, bisa menjadi cikal bakal penciptaan insect cyborg, sebagaimana perangkat mata-mata pada fiksi ilmiah yang segera akan menjadi kenyataan. Dalam hal ini, sumber tenaganya tidak bergantung pada gerakan, cahaya atau baterai, namun hanya berasal dari makanan serangga. Karya ini diterbitkan dalam jurnal online dari American Chemical Society.
"Hal ini hampir mustahil jika dimulai dari awal dan membuat sesuatu yang bekerja seperti serangga. Namun justru menggunakan serangga itu sendiri jauh lebih mudah " kata Daniel Scherson, profesor kimia, penulis laporan tersebut.
Cara kerjanya, energi listrik diperlukan untuk sensor dan untuk merangsang neuron sehingga serangga dapat melakukan apa yang kita inginkan. Ini menggunakan implan bio-fuel cell sebagai alat konversi kimia ke listrik pada serangga itu.
Kunci untuk mengubah energi kimia yaitu dengan menggunakan enzim secara seri pada anoda. Enzim pertama akan memecah gugus kimia gula dan trehalosa yang terus-menerus diproduksi kecoa dari makanan, menjadi dua gula sederhana yang disebut monosakarida.
Enzim kedua mengoksidasi monosakarida sehingga melepaskan elektron. Arus elektron (dalam hal ini listrik) mengalir ke katoda, di mana oksigen dari udara mengambil elektron dan direduksi menjadi air.
Diukur menggunakan potensiostat, output dari bio-fuel cell memiliki kerapatan daya maksimum mencapai 100 mikrowatt per sentimeter persegi pada tegangan 0,2 volt dan kerapatan arus maksimum sekitar 450 mikroamp per sentimeter persegi.
Sumber: case.edu, biofueldaily
More Articles...
Page 1 of 35









