Majalah Energi

sustainable energy monthly magazine

Welcome, Guest
Username Password: Remember me

"Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan
(1 viewing) (1) Guest
Diskusi seputar bentuk energi baru yang dapat dimanfaatkan
  • Page:
  • 1
  • 2

TOPIC: "Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan

"Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan 17 Sep 2010 17:12 #119

Coal bed methane (CBM) merupakan sumber energi yang relatif masih baru. Sumber energi ini merupakan salah satu energi alternatif yang dapat diperbaharui penggunaannya. Gas metane yang diambil dari lapisan batubara ini dapat digunakan sebagai energi untuk berbagai kebutuhan manusia. Walaupun dari energi fosil yang tidak terbaharukan, tetapi gas ini terus terproduksi bila lapisan batubara tersebut ada. Mari kita bahas.

Meski Coalbed Methane, atau sering disingkat sebagai CBM sudah cukup lama dikenal, namun sumberdaya gas batubara ini baru dieksploitasi dan diproduksi dalam jumlah besar oleh perusahaan-perusahaan besar di Amerika dan Australia baru pada tahun 1980-an. Sedangkan China saat ini sedang mengembangkannya. CBM telah menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir ini. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, China, India, Kanada, Rusia, dan beberapa negara di Eropa Timur telah melakukan studi dan pengembangan akan pemanfaat CBM ini.

Berdasarkan perkiraan dari sebuah institusi di Prancis, maka konsumsi energi di dunia tetap akan memakai minyak, batubara dan gas sebagai energi primer (gambar di bawah). Projeksi ini memberikan gambaran sebagaimana pentingnya peran energi fosil sebagai energi yang ”harus” terbarukan. Kata-kata harus disini mungkin tidak masuk akal, karena energi tersebut memang habis dipakai (tidak dapat diperbaharui). Dengan adanya teknologi, riset dan pemikiran baru, maka sebuah lapisan batubara dapat memberikan sebuah energi baru berupa gas yang dapat kita pakai.

untitled3.jpg


CBM ini tidak berbau, tidak berwarna dan sangat mudah terbakar. CBM terbentuk bersama air, nitrogen dan karbondioksida ketika material tumbuhan tertimbun dan berubah menjadi batubara karena panas dan proses kimia selama waktu geologi yang sering disebut dengan "coalification".

CBM dalam dunia pertambangan didefinisikan sebagai gas metana yang terbentuk dari aktivitas mikrobial (biogenic) atau panas (thermogenic) selama terjadinya proses pembentukan batubara. Jumlah kandungan CBM dalam lapisan batubara sangat tergantung pada kedalaman dan kualitas batubaranya. Semakin dalam lapisan batubara terbenam dari permukaan tanah (sebagai hasil dari tekanan formasi batuan di atasnya), semakin tinggi nilai energi dari batubara tersebut, dan semakin banyak pula kandungan CBM didalamnya. Secara umum, lapisan batubara bisa menyimpan gas metana sebesar 6 – 7 kali lebih banyak daripada jenis batuan lain (pada volume yang sama) dari reservoir gas.

Gas ini berasal dari proses pembetukan batubara yang berlangsung selama jutaan tahun. Gas ini tersimpan di dalam rekahan-rekahan yang ada di sepanjang lapisan batubara. Gas metan merupakan gas karbon yang bisa terbakar dan menghasilkan energi panas dan terbuang sia-sia ke udara saat batubara ini ditambang dengan metode tambang terbuka. Lengkapnya, CBM adalah gas methane (CH4) yang terperangkap dalam microcope atau pori-pori batubara melalui proses biogenic. Untuk memproduksi CBM, lapisan batubara harus terairi dengan baik sampai pada titik dimana gas terdapat pada permukaan batubara. Gas tersebut akan teraliri melalui matriks dan pori, dan keluar melalui rekahan atau bukaan yang terdapat pada sumur (gambar di bawah).

Air dalam lapisan batubara didapat dari adanya proses penggambutan dan pembatubaraan, atau dari masukan (recharge) air dalam outcrops dan akuifer. Air dalam lapisan tersebut dapat mencapai 90% dari jumlah air keseluruhan. Selama proses pembatubaraan, kandungan kelembaban (moisture) berkurang, dengan rank batubara yang meningkat.

untitled4.jpg


Gas biogenik dari lapisan batubara subbituminus akan dapat berpotensi menjadi CBM. Gas biogenik tersebut terjadi oleh adanya reduksi bakteri dari CO2, dimana hasilnya berupa methanogens, bakteri anaerobik yang keras, menggunakan H2 yang tersedia untuk mengkonversi asetat dan CO2 menjadi metane sebagai by produk dari metabolismenya. Sedangkan beberapa methanogens membuat amina, sulfida, dan methanol untuk memproduksi metane.

Aliran air, dapat memperbaharui aktivitas bakteri, sehingga gas biogenik dapat berkembang hingga tahap akhir. Pada saat penimbunan maksimum, temperatur maksimum pada lapisan batubara mencapai 40-90°C, dimana kondisi ini sangat ideal untuk pembentukan bakteri metane. Metane tersebut terbentuk setelah aliran air bawah tanah pada saat ini telah ada.

Apabila air tanah turun, tekanan pada reservoir turun, pada saat ini CBM bermigrasi menuju reservoir dari sumber lapisan batubara. Perulangan kejadian ini merupakan regenerasi dari gas biogenik. Kejadian ini dipicu oleh naiknya air tanah atau lapisan batubara yang tercuci oleh air. Hal tersebut yang memberikan indikasi bahwa CBM merupakan energi yang dapat terbaharui.

Lapisan batubara dapat menjadi batuan sumber dan reservoir, karena itu CBM diproduksi secara insitu, tersimpan melalui permukaan rekahan, mesopore, dan mikropore (gambar berikut). Permukaan tersebut menarik molekul gas, sehingga tersimpan menjadi dekat. Gas tersebut tersimpan pada rekahan dan sistem pori pada batubara sampai pada saat air merubah tekanan pada reservoir. Gas kemudian keluar melalui matriks batubara dan mengalir melalui rekahan sampai pada sumur. Gas tersebut sering kali terjebak pada rekahan-rekahan.

untitled5.jpg


CBM juga dapat bermigrasi secara vertikal dan lateral ke reservoir batupasir yang saling berhubungan. Selain itu, dapat juga melalui sesar dan rekahan. Kedalaman minimal dari CBM yang telah dijumpai 300 meter dibawah permukaan laut.

Gas terperangkap pada lapisan batubara sangat bergantung pada posisi dari ketinggian air bawah tanah. Normalnya, tinggi air berada diatas lapisan batubara, dan menahan gas di dalam lapisan. Dengan cara menurunkan tinggi air, maka tekanan dalam reservoir berkurang, sehingga dapat melepaskan CBM (gambar di bawah).

untitled6.jpg


Pada saat pertama produksi, ada fasa dimana volume air akan dikurangi (dewatering) agar gas yang dapat diproduksi dapat meningkat. Setelah fasa ini, fasa-fasa produksi stabil akan terjadi. Seiring bertambahnya waktu, peak produksi akan terjadi, saat ini merupakan saat dimana produksi CBM mencapai titik maksimal dan akan turun (decline).

Volume gas yang diproduksi akan berbanding terbalik dengan volume air. Bila volume gas yang diproduksi tinggi, maka volume air akan berkurang. Setelah peak produksi, akan terjadi fasa selanjutnya, yaitu fasa penurunan produksi (gambar di bawah). Seperti produksi minyak dan gas pada umumnya, fasa-fasa tersebut biasa terjadi. Namun demikian, seperti yang telah diuraikan, CBM dapat terbaharukan.

untitled7.jpg


Indonesia memiliki cadangan coalbed methane (CBM) yang cukup besar yaitu sekitar 350-400 triliun cubic feet (TCF) atau ketujuh di dunia. Cadangan itu tersebar di berbagai cekungan yang ada. Potensi sumberdaya yang begitu besar ini seharusnya dikembangkan menjadi salah satu sumber energi alternatif pengganti BBM.

Berdasarkan data Bank Dunia, konsentrasi potensi terbesar terletak di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan Timur, antara lain tersebar di Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8,4 TCS, Pasir/Asem (3 TCS), Tarakan (17,5 TCS), dan Kutai (80,4 TCS). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101,6 TCS). Sementara itu di Sumatera Tengah (52,5 TCS), Sumatera Selatan (183 TCS), dan Bengkulu 3,6 TCS, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0,8 TCS) dan Sulawesi (2 TCS).

Screen_shot_2010_09_17_at_3.png


Sebagai informasi, sumber daya terbesar sebesar 6,49 TCS ada di blok Sangatta-1 dengan operator Pertamina hulu energi methane Kalimantan A dengan basin di Kutai. Disusul Indragiri hulu dengan operator Samantaka mineral prima dengan basin Sumatera Selatan yang mempunyai sumber daya 5,50 TCS, dan sumber daya paling rendah terlatak di blok Sekayu yang dioperatori Medco SBM Sekayo dengan basin Sumatera Selatan, dengan sumber daya 1,70 TCS.

untitled9.jpg


Sumber :
ibrahimlubis.wordpress.com/2009/03/10/po...rnatif-di-indonesia/
www.technologyindonesia.net/2006/01/30/c...-energi-alternative/
inspirasitabloid.wordpress.com/2010/04/1...i-energi-alternatif/
www.isei.or.id/page.php?id=5jun071
parda-genz.blogspot.com/2009/04/coal-bed...waban-kebutuhan.html
www.wkmigas.com/organisation/about-wk-cbm/
Last Edit: 17 Sep 2010 17:19 by chintara permata.

Re:"Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan 17 Sep 2010 17:52 #122

wah menarik sekali ya mba chintara, saya pribadi baru denger nih tentang CBM dan ternyata berat juga ya topik nya hehe
yang saya pengen tanyakan pernyataan "terbaharukan" nya itu mba chinta, jadi sbnernya bisa saya katakan CBM merupakan hasil ekstrak bakteri dari Batu Bara nah sedangkan batu bara nya sendiri merupakan sebuah energi yang tidak terbaharukan bukan? berati andaikata batubara sudah habis apakah CBM ini masi dapat dihasilkan? karena sayang sekali negara kita lagi2 memiliki potensi tersembunyi yang sangat tinggi seperti CBM, peringkat 7 dunia! hehe sayang sekali kalau tidak di maksimalkan
nice post mba chinta! regards!

  • Posts:56
  • Life's Just Too Fun to be Ignored
  • Ilmam Mukhlis
  • Senior Boarder
  • OFFLINE

Re:"Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan 17 Sep 2010 23:34 #140

Nice Post..

Kebetulan ini topik saya waktu KP, dan kalau tidak salah yang pernah saya baca CBM ini energi yang didapat belum sepadan dengan cost yang dikeluarkan (masih mahal prosesnya) jadi masih belum terlalu populer. CMIIW

Selain itu, masalah "terbarukan" saya juga agak bingung.

CBM terbentuk bersama air, nitrogen dan karbondioksida ketika material tumbuhan tertimbun dan berubah menjadi batubara karena panas dan proses kimia selama waktu geologi yang sering disebut dengan "coalification".

CBM dalam dunia pertambangan didefinisikan sebagai gas metana yang terbentuk dari aktivitas mikrobial (biogenic) atau panas (thermogenic) selama terjadinya proses pembentukan batubara.

Gas ini berasal dari proses pembetukan batubara yang berlangsung selama jutaan tahun.


Tetapi di paragraf pertama:

Sumber energi ini merupakan salah satu energi alternatif yang dapat diperbaharui penggunaannya. Gas metane yang diambil dari lapisan batubara ini dapat digunakan sebagai energi untuk berbagai kebutuhan manusia. Walaupun dari energi fosil yang tidak terbaharukan, tetapi gas ini terus terproduksi bila lapisan batubara tersebut ada.


Sebenarnya berapa lama kira2 waktu yang dibutuhkan untuk terbentuknya gas methane tersebut?Apa bisa dikatakan terbarukan?
Last Edit: 17 Sep 2010 23:37 by syafrina nurwardani.

Re:"Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan 18 Sep 2010 19:38 #200

Mba Momon, kira-kira pengolahan CBM ini bagaimana ya prosesnya yang sudah dikembangkan hingga akhirnya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia, salah 1 contoh aplikasinya di kehidupan kita sehari-hari?Apakah sama dengan pengolahan gas-gas metan yang sudah dikembangkan di beberapa negara saat ini?

  • Posts:13
  • Dennis
  • Fresh Boarder
  • OFFLINE

Re:"Coal Bed Methan" Bentuk Energi Masa Depan 19 Sep 2010 11:49 #221

Neng Momon, saya mau bertanya,
mengapa di Indonesia sendiri CBM tidak populer atau kalah populer dibandingkan energi nuklir?
mengapa di Indonesia CBM tidak pernah dibicarakan sebagai sumber energi altenatif padahal di indonesia sudah ada beberapa perusahaan (Pertamina, Medco, dll) yang memanfaatkannya?
Apa saja kendala2 yang dihadapi dalam pemanfaatan CBM?

Terimakasih..

  • Posts:7
  • Steven
  • Fresh Boarder
  • OFFLINE
  • Page:
  • 1
  • 2
Time to create page: 0.15 seconds
Joomla SEO powered by JoomSEF

Majalah

Lihat edisi