Majalah Energi

sustainable energy monthly magazine

Pengantar : Manajemen Energi Perusahaan

Attention: open in a new window. PDFE-mail

Oleh: Lukman Agus, MT (Ahli Audit Energi Dalam Bangunan)

Bidang manajemen energi telah lama sekali beredar, setidaknya saya ketahui ini dari Energy Management Handbook yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1942. Buku tersebut ditulis oleh Wayne C. Turner dan Steve Doty sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Maksud mengatakan hal tersebut semata-mata hanya ingin menunjukkan bahwa topik manajemen energi ini merupakan ilmu yang sudah cukup lama berkembang. Kepopuleran dari topik ini dipengaruhi oleh harga energi dunia dan kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk menekan pengeluaran energi.

Ditengah krisis global yang melanda bangsa, baik krisis ekonomi yang membayangi, krisis kepercayaan terhadap pemerintah, krisis moral, dan krisis energi (ini nih yang mau dibahas), masih saja kita sebagai bangsa bersikap boros. Kita masih boros mengkonsumsi energi, baik itu dalam bentuk energi listrik ataupun bahan bakar minyak dan gas. Hal ini tidak saja dilakukan oleh para penduduk kota yang lebih senang bermacet-macet membuang bahan bakar dijalan raya, akan tetapi juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan baik dalam proses produksi ataupun dalam pengoperasian gedung perkantoran/komersial.

Manajemen energi bagi sebuah perusahaan setidaknya akan mendatangkan dua buah keuntungan, yakni keuntungan finansial dan keuntungan lingkungan. Manajemen energi dapat membantu terwujudnya short-term survival suatu perusahaan pada saat harga energi mahal ataupun saat energi tidak tersedia karena perusahaan utilitas tidak mampu memenuhi permintaan (pemadaman bergilir). Selain itu, manajemen energi juga dapat membantu terwujudnya long-term success karena perusahaan dapat bersaing dengan baik dengan memberikan penawaran terbaik pada harga yang relatif murah. Sisi lain dari penerapan manajemen energi ini adalah menonjolkan peran perusahaan membantu memerangi global warming, polusi, serta hujan asam (diurut berdasarkan kepopuleran saat ini). Dengan mengkonsumsi lebih sedikit energi berarti mengurangi polusi termal dan penggunaan air pendingin, yang intinya dapat membantu meningkatkan kualitas lingkungan.


.
Untuk mensukseskan suatu program manajemen energi, top executive harus mewujudkan niat baik dan dukungannya bagi program ini. Prinsip TQM (Total Quality Management) yang berprinsipkan pada kewenangan front-line employees untuk melakukan perubahan dan membuat keputusan pada tingkat operasi dasar, harus mengikutsertakan energy cost control didalamnya. Bagi top executive yang masih ragu, berikut terdapat gambaran kasar bagi pihak manajemen mengenai besaran reduksi biaya energi adalah sebagai berikut :

  • Kegiatan manajemen energi dengan aktifitas yang menggunakan biaya rendah selama 1 sampai 2 tahun, akan menghasilkan reduksi sebesar 5% s/d 15%.
  • Kegiatan dengan biaya sedang dan usaha yang tekun selama 3 sampai 5 tahun, akan mengkasilkan reduksi sebesar 15% s/d 30%.
  • Kegiatan jangka panjang dengan biaya tinggi dan perencanaan yang baik akan menghasilkan reduksi sebesar 30% s/d 50%.

Seringkali kegiatan manajemen energi dianggap mengalami kebuntuan setelah dicapai pengurangan biaya energi sebesar 15%-20%. Hal ini membawa dua buah dampak buruk, yang pertama adalah tidak termotivasinya manajer energi untuk mencari upaya efisiensi, sehingga pengurangan biaya lebih dari 20% tidak akan pernah tercapai.

Dampak buruk yang berikutnya adalah anggapan bahwa penurunan biaya 20% itu merupakan akhir dari program manajemen energi. Setelah keadaan ini pada umumnya konsumsi energi akan kembali meningkat karena perilaku lama akan dijalankan kembali pada sistem operasi perusahaan.

Terdapat usulan bagi terciptanya program manajemen energi yang sukses diambil dari buku Energy Management Handbook, yakni:

  1. Mengontrol energi dari biaya konsumsi energi atau tarif perusahaan utilitas (dalam rupiah), bukan energi dari jumlah kalor yang digunakan (BTU, TR, KW).
  2. Mengontrol energi sebagai bagian dari biaya produksi bukan sebagai bagian dari manufaktur atau general overhead.
  3. Hanya mengontrol dan memonitor konsumsi energi paling utama, yakni 20% yang menyumbang 80% biaya.
  4. Menerapkan usaha yang besar yakni dengan berinvestasi pada pemasangan kontrol dan upaya lain untuk memperoleh hasil penghematan.
Joomla SEO powered by JoomSEF

Majalah

Lihat edisi