Majalah Energi

sustainable energy monthly magazine

Welcome, Guest
Username Password: Remember me

Profile for Randy Ariaputra (13307036)

  • OFFLINE
  • Rank: Fresh Boarder
  • Register Date: 08 Sep 2010
  • Last Visit Date: 29 Sep 2010
  • Time Zone: GMT +7:00
  • Local Time: 06:35
  • Posts: 6
  • Profile Views: 1605
  • Karma: 1
  • Location: Unknown
  • Gender: Unknown
  • Birthdate: Unknown

Signature

Posts

Posts

emo
Thomas Poernomo wrote:
Akhmadi Pranoto wrote:
Ran, saya dari jateng tapi di daerah saya ko belum pernah dengar ya adanya kompor itu?
Jatengnya sebelah mana itu? bisa lebih spesifiK?


Maksudnya di Jateng sebagai produsen bahan bakar bio-ethanol nya Di bukan kompor bio-ethanol nya
Kl komBAD WORDya mah kan sedang dikembangkan oleh Bung Randz


ah bung thomas ini bisa aja

riset pengembangan kompor bioetanol sebenarnya sih sudah banyak. Cuman kurang terekspos dan kurang perhatian dari pemerintah bahkan pemerintah daerah loh
Dicari : Alternatif ...
Category: Bioenergi
emo
Akhmadi Pranoto wrote:
Ran, saya dari jateng tapi di daerah saya ko belum pernah dengar ya adanya kompor itu?
Jatengnya sebelah mana itu? bisa lebih spesifiK?
Soalnya kalau di daerah saya ,masih banyak banget yg menggunakan kayu bakar (termasuk ibu saya )
Wah saya kurang sependapat, jika bioetanol hanya dimanfaatkan untuk kompor saja.
Bagaimanapun kita harus bisa meniru keberhasilan negara Brazil dalam hal ini yg telah mampu menjadi negara pengekspor bioetanol nomor 1 di dunia. Hal yg perlu diingat adalah, jika kita menggunakan bahan bakat bioetanol, gas buangnya akan lebih ramah lingkungan jika dibandingkan jika kita menggunakan bensin.
Hal ini tentu akan sangat membantu untuk memperlambat terjadinya pemanasan global yg disebabkan oleh gas buang kendaraan bermotor.


pertama, di Jateng penyebaran kompor bioetanol lebih banyak di daerah Semarang, Klaten dan sekitarnya mad
Kebumen mah belum kebagian sepertinya
namun penyebaran kompor bioetanol yg ada di Jateng (kompor bioetanol metode pre-heating) mulai meredup. Pemicunya ya iru dia, pengrajin bioetanolna pada menghilang

memang sih ke depannya bioetanol ini mesti dikembangkan ke arah pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan. Namun di Indonesia saya rasa masih jauh. Indonesia bukanlah Brazil yg mampu memenuhi kebutuhan pangan warganegaranya sehingga mampu melakukan penyediaan bahan baku bioetanol. Di Indonesia, masih banyak daerah yg kekurangan pangan.

Jadi mungkin langkah awal ya bikin kompor tandingan elpiji dulu baru riset ke depannya bikin mobil berbahan bakar bioetanol
Dicari : Alternatif ...
Category: Bioenergi
emo
nah itu dia bang naren, pengrajin bioetanol itu banyak terdapat di wilayah Jateng dan Jatim

di sana, industri bioetanol sudah menjadi komoditi dan mata pencaharian desa. Sasaran penjualannya yang utama ya pabrik farmasi atau pabrik rokok. Hanya sedikit yang dipakai untuk bahan bakar kompor lha wong yg pake komBAD WORDya aja cuman sedikit

Makin ke sini, industri bieoetanol skala rumahan makin banyak yang gulung tikar karena kalah bersaing akibat harga bioetanol dikuasai oleh industri skala besar yang lebih kuat dari sisi modal dan jaringan pemasaran.

tata niaga bioetanol yang dibuat departemen perindustrian dan perdagangan juga membuat standar harga bioetanol tinggi yaitu di atas 10rb rupiah per liternya karena untuk mencegah penyalahgunaan yg mungkin akan terjadi kalau harganya murah

Untuk wilayah DKI dan sekitarnya, cukup banyak pemasok bioetanol skala kecil dan besar, namun harganya di atas 10rb rupiah per liter
untuk daerah bandung, saya belum menemukan satupun pemasok bioetanol. Dulu ada, tapi sekarang bangkrut karena ngga laku.


Oia, untuk kompor bioetanol dengan konversi liquid ke gas, baru sebatas pengujian sederhana, belum sampai tahap lab. Ujicoba kasarnya menyebutkan untuk setengah liter bioetanol mampu menyalakan kompor selama sekitar 1 jam nonstop. Dengan asumsi tabung gas LPJ 3 kg mampu menyalakan kompor selama 6 jam nonstop, berarti perbandingan kasarnya, dibutuhkan 3-4 liter bioetanol untuk menyamai kapasitas tabung 3 kg
Dicari : Alternatif ...
Category: Bioenergi
emo
Tugas 1
TF-4119 Topik Khusus A (Energi)
13307036 Randy Ariaputra


Sudah bosan rasanya kita melihat berita di media massa tentang ledakan tabung gas elpiji. Hampir tiap hari selalu ada saja kasus ledakan gas yang memakan korban jiwa dan materi yang tidak sedikit jumlahnya. Gas memang terkesan carut-marut di negara kita. Bahan bakar fosil yang diklaim sebagai bahan bakar bersih ini menjadi primadona di pasar dunia. Ekspor gas alam Indonesia menggeliat naik seiring tingginya permintaan dari mancanegara. Pemerintah melalui Kementrian ESDM dan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan beramai-ramai menggalakkan sektor ekspor gas alam demi menambah devisa negara.


Fenomena gas tak berhenti sampai di situ. Di tahun 2008, munculah suatu revolusi di bidang bahan bakar konsumsi rumah tangga yaitu konversi minyak tanah ke gas elpiji. Subsidi minyak tanah dicabut sehingga menjadi langka dan harganya meroket. Sedangkan produk baru bernama tabung gas LPG 3 kg berwarna hijau melon muncul dan dibagikan secara gratis kepada hampir 100 juta penduduk Indonesia lengkap dengan kompor dan selang serta regulatornya. Langkah revolusioner pemerintah ini membawa ketidaknyamanan bagi para eksportir gas. Tentu saja konsumsi gas dalam negeri yang tiba-tiba naik secara drastis ini sedikit banyak mempengaruhi kebijakan ekspor gas ke mancanegara. Tak mau kehilangan lahan penghasilan, segala cara dilakukan, sampai akhirnya memaksakan kenaikan harga gas untuk industri hingga pengurangan jatah gas terutama untuk industri-industri yang mengonsumsi gas dalam jumlah besar seperti pabrik pupuk. oleh sebab itulah beberapa pabrik pupuk terancam ditutup karena kekurangan pasokan gas.



tabung gas LPG 12 kg (biru) dan 3 kg (hijau)

ledakan tabung gas elpiji

kompor biomassa ciptaan Pak Nurhuda


Kompor biomassa cocok diterapkan untuk masyarakat ekonomi lemah terutama yang tinggal di pedesaan dengan masih melimpahnya persediaan kayu bakar dan ranting kering. Namun bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di wilayah kota besar? Sebenarnya sebelum biomassa ada yang namanya biogas, yaitu gas metana yang dihasilkan dari pembusukan kotoran hewan ternak ataupun sampah organik. Namun dengan memperhitungkan efisiensi, biogas sulit diterapkan terutama di kota-kota besar karena sempitnya lahan dan orang umumnya enggan mengolah biogas karena berasal dari sesuatu yang bau.

Hingga akhirnya, munculah bahan bakar yang disebut bioetanol. Nampaknya sudah tidak perlu dijelaskan lagi apa itu bioetanol, dan bagaimana proses pembuatannya, yang pasti, bioetanol adalah bahan bakar berbasis alkohol (karbon) yang berasal dari fermentasi tumbuh-tumbuhan pati seperti ubi, singkong, sorgum, tebu bahkan yang baru ditemukan yaitu pisang! Semua masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di pedesaan tahu dan mengerti cara membuat bioetanol. Hanya saja mereka tidak tahu kalau yang mereka buat itu bioetanol. Mereka hanya tahu kalau namanya arak, tuak, atau apapun itu yang biasa dipakai mabuk atau untuk perayaan dan seremonial di kalangan suku tertentu.

Potensi bioetanol sebagai bahan bakar sebenarnya besar. Hanya saja, masyarakat dan pemerintah hanya tahu kalau bioetanol itu bahan bakar premium alias ekslusif. Hanya dipakai untuk pencampuran saus rokok, kepentingan farmasi, pembuatan cat, pewarna tekstil sampai hanya tahu sebatas bahan campuran untuk membuat biofuel yang jumlahnya bahkan tak sampai 10%. Banyak yang masih belum sadar kalau bioetanol sebenarnya menyimpan potensi besar untuk dipakai sebagai alternatif kompor elpiji sehingga gas elpijij bisa dimaksimalkan untuk sektor lain seperti industri atau ekspor bukan habis untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Riset-riset serta penemuan-penemuan kompor bioetanol muncul dari kalangan bawah dalam artian bukan dari kalangan peneliti. Mereka berasal dari kelompok orang yang peduli akan nasib rakyat kecil yang dihantui benda yang katanya bom berkedok bahan bakar bernama tabung gas elpiji 3 kg. Kemunculan kompor bioetanol sudah sejak lama, mungkin sekitar 5 tahun lalu. Semuanya berawal dari pemberian alternatif untuk masyarakat kecil yang masih menggunakan kompor minyak tanah di pedesaan yang cukup jauh dari keramaian. Minyak tanah sulit masuk ke daerah tersebut dan potensi bioetanol di sana cukup besar dengan banyaknya tanaman penghasil bioetanol seperti singkong, ubi, tebu, dan lain-lain. Cost produksinya pun lebih murah.. Dengan peralatan sederhana saja bioetanol dengan kadar minimal 60% sudah bisa dihasilkan dan dapat dipakai sebagai bahan bakar kompor bioetanol. Jika dihitung secara kasar, cost produksi bioetanol berbasis singkong per liternya hanya Rp 3.400,- jauh lebih murah ketimbang minyak tanah yang saat itu masih di atas Rp 4.500,- per liter.

Performansi kompor bioetanol juga lebih unggul ketimbang kompor minyak tanah. Apinya meski kadang berwarna kuning, tidak berjelaga di bagian dasar panci atau wajan, tidak seperti minyak tanah yang meski biru masih meninggalkan jelaga. Kesimpulannya, kompor bioetanol yang paling pertama dan sederhana sekalipun mampu unggul dibanding kompor minyak tanah. Nah, setelah minyak tanah menghilang dan muncul elpiji, kompor bioetanol tak mampu bersaing jika tidak segera dilakukan inovasi. Mulailah dari sini, berbagai macam ide berkembang. Muncul banyak sekali kompor-kompor bioetanol terbaru dengan berbagai metode seperti pre-heating, kemudian menggantungkan tabung bahan bakarnya di tempat yang lebih tinggi agar mendapat tambahan tekanan dengan bantuan gaya gravitasi dan lain-lain. Semuanya demi mencapai satu tujuan, yaitu mendekati performansi kompor elpiji si primadona.



Akan tetapi, meski sudah dihasilkan api yg biru dan bersih serta tingkat efisiensinya hampir menyamai kompor elpiji, kompor bioetanol hanya mampu menyentuh kalangan masyarakat di pedesaan dan sedikit di kota besar. Penyebabnya jelas : performansi kompor bioetanol belum bisa menyamai gas elpiji dalam hal api yang bertekanan sehingga proses memasak menjadi lebih cepat. Selain itu, pemerintah juga terkesan belum memandang bioetanol sebagai energi terbarukan yang memiliki prospek besar. Akibatnya, pajak bioetanol semakin besar padahal sebelum ditemukannya kompor bioetanol, masyarakat kecil di banyak daerah di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur telah banyak yang beralih profesi menjadi pengrajin bioetanol karena seperti yang saya katakan di atas, membuat bioetanol sangatlah mudah. Alat-alat sederhana pun mampu untuk menghasilkan bioetanol dengan kadar maksimal 60% dan bahan bakunya banyak tersedia.


kompor bioetanol metode pre-heatiing dan gravitasi


Imbasnya, dewasa ini banyak pengrajin bioetanol di pedesaan gulung tikar karena produk mereka kurang laku akibat terbatasnya penggunaan bioetanol ke industri rokok dan farmasi. Yang menang adalah perusahaan bioetanol besar yang mempunyai kekuatan untuk menentukan harga pasar dan memiliki stok melimpah.

Lantas, apakah kedudukan kompor elpiji sulit atau tak bisa digeser? Sebenarnya tidak. Dewasa ini, orang-orang yang masih yakin dengan prospek bioetanol sebagai energi terbarukan yang aman bagi rumah tangga terus melakukan penelitian guna menciptakan kompor bioetanol yang mampu bersaing dengan kompor elpiji dari segi performansi. Baru-baru ini muncullah suatu metode pemrosesan bioetanol untuk pembakaran dengan cara mengonversinya menjadi gas dan menyekapnya dalam burner agar dihasilkan gas bertekanan yang siap dibakar. Prospek nya besar sekali. Dengan metode ini, bahan bakar bioetanol cair tak langsung dibakar, akan tetapi diubah dahulu menjadi gas dengan bantuan elemen pemanas listrik kemudian gas yang dihasilkan disekap dalam suatu burner hingga dihasilkan gas dengan tekanan yang cukup untuk dibakar. Api yang dihasilkan kompor bioetanol metode baru ini biru dan bertekanan, persis sama seperti elpiji meski efisiensi nya tertinggal sedikit dari elpiji.

Namun dengan membandingkan harga bahan bakarnya, elpiji 3 kg yg masih disubsidi pemerintah saja harganya sudah Rp 13.500, sedangkan cost produksi bioetanol seperti yang disebutkan di atas, per liternya hanya kurang dari Rp 4.000 dan cukup digunakan 3-4 liter bioetanol untuk menyamai elpiji 3 kg. Kompor bioetanol metode baru ini lebih aman dari kompor elpiji karena tabungnya tak bertekanan akibat bahan bakar yang ada di dalamnya berwujud cair (liquid) bukan gas yang ditekan seperti tabung elpiji yang selama ini selalu membawa masalah. Tekanan yang dihasilkan pun diciptakan dalam burner dalam kompor sehingga akan lebih aman bagi pengguna. Konsumsi listrik yang dipakai pun terhitung kecil karena hanya digunakan untuk mengubah fasa bioetanol yang tak lebih dari 150 Watt saja. Dan listriknya pun tak selamanya digunakan karena ada otomatisasi apabila suhu yang diinginkan telah tercapai (80 derajat C), konsumsi listrik akan berhenti.






Kompor bioetanol metode baru ini masih dalam tahap pengembangan karena masih terdapat beberapa kekurangan kecil seperti apinya kadang belum stabil karena sulit menciptakan burner ideal yang mampu menyeimbangkan antara gas yg masuk dari pipa pemanasan dengan gas yang digunakan untuk dibakar.

Namun saya yakin, sebentar lagi, kompor ini mampu menjawab tantangan untuk memberi alternatif selain elpiji sebagai bahan bakar kompor untuk rumah tangga dengan performansi yang hampir menyerupai elpiji. Tinggal bagaimana pemerintah merespon perkembangan kompor ini saja.

Kesimpulan yang bisa diambil dari artikel ini adalah potensi bioetanol sangat besar untuk digunakan sebagai bahan bakar konsumsi rumah tangga karena peluang untuk merealisasikannya jauh lebih besar ketimbang merealisasikan penggunaan bioetanol untuk kendaraan dan sebagainya yang masih jauh dari kenyataan.

Banyak dampak positif dari penggunaan bioetanol untuk konsumsi rumah tangga, salah satunya adalah bangkitnya industri kecil pengrajin bioetanol yang telah mati serta pembukaan lahan pertanian dan pembukaan lapangan kerja di sektor pertanian untuk menyediakan bahan baku penghasil bioetanol. Tinggal bagaimana peran pemerintah saja sebagai regulator dalam mengatur tata niaga bioetanol serta menetapkan standardisasi harga dan mutu bioetanol yang akan digunakan sebagai bahan bakar kompor karena kompor bioetanol metode baru optimal jika menggunakan bioetanol dengan kadar di atas 70%.

Namun jangan lupa juga, Indonesia bukanlah Brazil yang sudah mampu swasembada pangan sehingga kebutuhan bahan baku bioetanol tak akan mengganggu kebutuhan pangan. Sedangkan di Indonesia yang masih banyak kekurangan pangan perlu dibuat regulasi khusus agar pengadaan bahan baku untuk bioetanol tak bentrok dengan kepentingan pangan.



Sumber :
www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1276215041
www.klik-galamedia.com/indexnews.php?war...9&idkolom=cimahi
www.klik-galamedia.com/indexnews.php?war...1&idkolom=cimahi
umum.kompasiana.com/2009/05/17/demam-bioetanol-jilid-1/
www.indonesia.go.id/id/index.php?option=...12850&Itemid=718
web.bisnis.com/sektor-riil/manufaktur/1i...5oebqf25agipd5sld4g5
www.detikfinance.com/read/2010/06/16/141...entingkan-ekspor-gas
id.voi.co.id/fitur/voi-pesona-indonesia/...-terancam-tutup.html
economy.okezone.com/read/2010/04/20/213/...as-mengacu-ke-minyak
nasional.vivanews.com/news/read/167920-j...paritas-harga-elpiji
www.inilah.com/news/read/ekonomi/2009/12...bagus-dari-batubara/
Dicari : Alternatif ...
Category: Bioenergi
emo
halo semua

perkenalkan saya Randy, mahasiswa Teknik Fisika 2007

tertarik mengikuti perkembangan energi terutama energi terbarukan sejak duduk di tingkat 2 kuliah

mohon bimbingannya dari kk kk semua yang sudah lebih banyak pengalaman dari saya

regards
halo halo
Category: Perkenalan
emo
halo bung Widarto

salam kenal juga

saya Randy, user baru juga di forum ini

tertarik bergabung di forum ini untuk menambah wawasan saya mengenai energi terutama energi terbarukan yg menjadi interest TA saya

mohon bimbingannya juga
Halo Juga
Category: Perkenalan
More
Time to create page: 0.40 seconds
Joomla SEO powered by JoomSEF

Majalah

Lihat edisi