Majalah Energi

sustainable energy monthly magazine


Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) - Giatkan Konservasi dan Efisiensi Energi

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Dalam konferensi tersebut, hadir perwakilan Kementerian ESDM: Bambang Setiawan (paling kiri), Luluk Sumiarso (tengah), dan Evita H. Legowo (paling kanan). Denmark diwakili oleh Borge Peterson (tengah).
Gedung-gedung komersial di kota-kota besar di Indonesia ditengarai menggunakan energi sebesar 50 watt tiap meter persegi lantai. Angka ini lebih tinggi 15 watt ketimbang penggunaan energi di negara-negara tetangga. Di tengah krisis energi yang menimpa dunia, Indonesia perlu melakukan tindakan komprehensif dalam hal efisiensi dan konservasi energi. Tidak hanya bangunan komersial, dua inovasi ini bisa pula diterapkan di sektor industri, rumah tangga, dan transportasi.

Dalam Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI) yang diselenggarakan pada 17 Maret lalu di Hotel JW Marriott, Jakarta, berbagai direktur jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menceritakan upaya konservasi dan efisiensi energi yang telah mereka lakukan.

Luluk Sumiarso, Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), mengatakan bahwa EBTKE tengah menginventarisasi tingkat efisiensi energi dari 650 perusahaan. “Jika kita bisa menghemat energi dalam jumlah yang besar, bisa dikatakan sama dengan membangun pembangkit listrik baru,” katanya.
Sejauh ini, Kementerian ESDM menjalankan audit energi di 462 gedung dan industri. Banyak perusahaan antri minta diaudit oleh ESDM yang menjalankannya dengan biaya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Dari audit ini, kami merekomendasikan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk melaksanakan efisiensi energi,” ungkap Maryam Ayuni, Direktur Konservasi Energi.

Sebagian perusahaan merespon hasil audit dengan melakukan upaya-upaya efisiensi energi dengan biaya yang beragam. Salah satu langkah yang tidak makan biaya adalah perubahan perilaku. “Untuk high cost, (perusahaan) akan difasilitasi untuk mencari dana investasi alat. Kami hubungkan dengan perbankan,” jelas Maryam.

Untuk sektor minyak dan gas bumi, Evita H. Legowo, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, menyatakan bahwa pihaknya belum bisa menjalankan program konservasi energi, khususnya pada sektor hulu. Peluang efisiensi terdapat pada sektor hilir migas. Ia dapat diterapkan dengan cara pengawasan penggunaan BBM bersubsidi.

Pada sektor pertambangan, konservasi energi tengah dirumuskan. Bambang Setiawan, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, mengatakan, “salah satu hal yang kami lakukan adalah mendorong optimasi produksi batubara. Kami juga merencanakan melakukan blending untuk mendapatkan batubara dengan kualitas yang baik.”

Demi konservasi energi, Kementerian ESDM bekerjasama dengan Pemerintah Denmark. Kerjasama ini telah dijalin sejak Bali Roadmap pada 2007 lalu. Borge Petersen, Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, mengatakan, “kerjasama meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan grant sebesar 10 juta USD dalam jangka waktu 5 tahun.”

Salah satu hasil dari kerjasama ini adalah renovasi salah satu lantai di gedung Direktorat Jenderal Kelistrikan Kementerian ESDM. “Renovasi dilakukan dengan biaya yang cukup murah dan menggunakan metode yang sederhana,” ungkap Totok Sulistianto, perwakilan tim pelaksana proram renovasi. Ia meliputi pengendalian bising lingkungan dan efisiensi energi.

Renovasi gedung bisa menjadi contoh langkah hemat energi. Totok mengklaim pihaknya bisa menekan penggunaan listrik dari 170.000 kilowatt-hour menjadi sekitar 100.000 kilowatt-hour per meter persegi lantai per tahunnya. “Diharapkan, nanti para pengembang, kontraktor, maupun perencana bisa menyalin konsep-konsep yang diterapkan di gedung ini dengan mudah,” tambah Luluk.

Majalah Energi April 2011

Joomla SEO powered by JoomSEF
Banner