Majalah Energi

sustainable energy monthly magazine


Resensi : General Check-Up Kelistrikan Nasional

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Resensi - Nasional

Monday, 31 January 2011 05:51


Judul Buku  : General Check-Up Kelistrikan Nasional
Penulis        : Ali Herman Ibrahim
Penerbit      : Mediaplus Network
Cetakan      : Cetakan 1, November 2008
Hal              : 208 hal
ISBN           : 9789791889803

Sejarah kelistrikan di Indonesia bahkan sudah lebih tua dari umur republik kita. Tercatat sejak jaman Belanda sudah ada Sperusahaan listrik NV NIGM, perusahaan swasta yang membangun dan mengoperasikan pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sejak kemerdekaan, dilakukan nasionalisasi dan diserahkelolakan ke pemerintah Indonesia. Presiden Sukarno, Presiden Republik Indonesia pada saat itu menggabungkannya menjadi Perusahaan Jawatan Listrik dan Gas. Perkembangan selanjutnya berubah menjadi Badan Pimpinan Umum PLN (BPU-PLN). Pada tahun 1965, di ubah lagi dengan di pisah antara Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Gas Negara (PGN), dengan status PLN sebagai Perusahaan Umum (Perum). Dan terakhir PLN berubah status menjadi Perseroan Terbatas pada tahun 1994.

Prof. Dr. Ir. Ariono Abdulkadir, MSME

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Sosok - Nasional

Friday, 28 January 2011 17:44


Staf  Ahli Direksi PT. PLN (Persero)

Majalah Energi (ME) : Prof Ariono, terima kasih banyak atas waktunya. ME sangat menghargai kontribusi Bapak untuk ketenagalistrikan Indonesia. Pertama, bisa Bapak ceritakan alasan Bapak mengejar gelar Teknik Fisika dari ITB di Bandung?
Ariono Abdulkadir (AA) : Terimakasih, sebetulnya, terus terang, dulu pada tahun 58 kondisi keuangan negara tidak begitu baik, orang tua saya Pegawai Negeri, punya anak banyak, dan saya ingin masuk ITB. Teknik Fisika merupakan bidang engineering yang mendekati minat saya yang menawarkan beasiswa.
Pada waktu saya mendaftarkan diri ke Teknik Fisika, saya bernegosiasi dengan para dosen tentang mata kuliah apa saja yang akan saya ambil. Saya putuskan untuk mengambil 40% Teknik Fisika seperti teknik kontrol, fisika matematik, dan fisika rekayasa, 30% teknik mesin seperti alat-alat permesinan, mekanika fluida, gambar teknik, pokoknya hardcore mechanical engineering process, dan 30% mata kuliah elektro yang isinya kombinasi antara arus lemah dan arus kuat, apa yang saya ambil waktu itu adalah, arus bolak balik, medan listrik dan magnet, telekomunikasi, radio dan teknik pembangkit tenaga listrik. Elektronika pada waktu itu merupakan masa perubahan dari vacum tube ke transistor. Dari tiga bagian kuliah itu, saya merasa punya pengetahuan cukup untuk mengerti engineering physics.

Klaster Energi Baru Terbarukan ITB

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Nasional

Friday, 21 January 2011 17:20

Bandung - Menindaklanjuti hasil pertemuan ITB dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tanggal 7 Januari 2010, dan sejalan dengan Rencana Induk Diversifikasi Energi Nasional (RIDEN) yang merupakan bagian dari Visi EBTKE 25/25, diadakan "“Lokakarya Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi" pada hari Jumat (21/1/2011) bertempat di Ruang Rapim A, Rektorat ITB, dipimpin oleh Prof, Dr. Ismunandar WRRIM/LPPM ITB.

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB telah menunjuk person in charge (PIC) untuk masing-masing klaster. PIC akan berkoordinasi dengan dosen/peneliti di klasternya masing-masing untuk mendiskusikan ide penelitian dari masing-masing bidang.

Klaster Energi Baru Terbarukan di ITB, disertai PIC :

  1. Klaster Nuklir dipimpin oleh Prof. Dr. Zaki Su'ud
  2. Klaster Coal Bed Methane dipimpin oleh Ir. Doddy Abdassah, MSc, PhD.
  3. Klaster Gasified Coal dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Herry Susanto
  4. Klaster Liquidied Coal dipimpin oleh Dr. Ir. Dwiwahju Sasongko
  5. Klaster Hidrogen dipimpin oleh Dr. Bambang Prijamboedi
  6. Klaster Panas Bumi dipimpin oleh Ir. Nenny Miryani Saptadji, PhD
  7. Klaster Hidro dipimpin oleh Dr.Ing.Ir. Indra Djodikusumo
  8. Klaster Bioenergi dipimpin oleh Dr. Ir. Tatang Hernas S.
  9. Klaster Energi Surya dipimpin oleh Dr. Ahmad Nuruddin
  10. Klaster Energi Angin dipimpin oleh Dr. Priyono Soetikno
  11. Klaster Samudra dipimpin oleh Dr. Totok Suprijo

Pertemuan tersebut ditujukan untuk menentukan arah dan rencana penelitian ITB di bidang energi baru dan terbarukan. Diskusi dituangkan dalam presentasi yang dipresentasikan oleh masing-masing klaster pada saat lokakarya tersebut berlangsung.

ENERGI PANAS BUMI : Status saat ini. [2010]

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Fokus - Status

Thursday, 16 December 2010 22:16


Oleh : Nenny Miryani Saptadji, PhD
Manager Program Teknik Panas Bumi, FTTM-ITB

Indonesia mempunyai potensi panas bumi sangat besar di dunia, yaitu 30-40% potensi sumberdaya panas bumi dunia, tersebar di kepulauan Indonesia. Survei panas bumi mengindikasikan adanya 265 area prospek panas bumi di Indonesia, yaitu 84 prospek di Pulau Sumatera, 76 prospek di Pulau Jawa, 51 prospek di Pulau Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek di Irian Jaya, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di Kalimantan (Gambar 1). Sistem panas bumi di Indonesia umumnya sistem hidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (125-225oC), sehingga sangat potensial apabila diusahakan untuk pembangkit listrik. Potensi sumberdaya dan cadangan panas bumi Indonesia diperkirakan sebesar 28.170 MWe. Cadangan diperkirakan setara dengan 14.730 MWe, terdiri dari cadangan terbukti 2.288 MWe, cadangan mungkin 1.050 MWe dan cadangan terduga 11.392 MWe.

Dari 265 area panas bumi yang terdapat di Indonesia baru 7 (tujuh) area panas bumi/ Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrrik, dengan kapasitas terpasang total hingga akhir tahun 2008 adalah 1.052 MWe. Pada awal tahun 2009 Unit-2 PLTP Panas Bumi Wayang Windu telah mulai beroperasi dengan kapasitas 117 MW. Pada awal bulan Mei PLTP Lahendong Unit-3 dengan kapasitas 20 MW mulai dioperasikan. Dengan demikian kapasitas PLTP telah meningkat menjadi 1.189 MWe. Adapun status area panas bumi lainnya adalah sebagai berikut: 162 area (61,13%) masih pada tahap survey pendahuluan (preliminary survey), 88 area  (33,21%) telah dilakukan eksplorasi rinci namun belum terbukti oleh pemboran dan 8 area (3.02%) telah dinilai kelayakannya dan siap dikembangkan.

Artikel Lainnya

Tutup Kampung 2010 - Tapak Bumi Village Banten

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Wednesday, 15 December 2010 16:46

tapakbumi
TAPAK BUMI VILLAGE (
http://indonesianvillage.com/)
Kawasan pesisir utara Banten merupakan kawasan pesisir yang mempunyai keunikan yang ditandai terdapatnya Pulau Burung yang merupakan habitat alami burung dan unggas. Kedekatan dengan Pelabuhan Karangantu dan Kesultanan Banten menjadikan kawasan ini rawan untuk dirusak dan dicemari oleh berbagai macam limbah. Bersama Komunitas Banten Creative Community, berjuang dan membangun di kawasan pesisir utara Banten untuk mencoba menghentikan perubahan iklim, melindungi hutan mangroove dan teluk Banten, memperjuangkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan membantu menciptakan kawasan ini lebih damai dan aman.

Acara ini akan diikuti oleh sekitar 100 orang supporter Banten Creative Community, yang terdiri dari Pejuang Eco Village, Green Community, Pecinta Alam HUMA, PPA Jamadagni Bandung, IAI Banten, Rumah Dunia, Implementing Renewable Energy Society (IMPRES), dan PT. Tapak Bumi.

Minggu, 19 Desember 2010

Penyemaian tanaman mangroove di pesisir utara Banten dan bersih-bersih mangroove.

 

Jum’at, 31 Desember 2010

Bertempat di Tapak Bumi Village, Kawasan Empang Karangantu Banten.

  • Festival layang-layang.
  • Belendungan (meriam bambu).
  • Pesta api unggun dari sampah-sampah laut yg tidak bisa didaur ulang.

Contact Person

  • Firdaus Ghozali ( 08179168611)
  • Fardiyan Amar Moro ( 08170816365)

Mari kita selamatkan lingkungan sambil melestarikan permainan tradisional dan memperkenalkan gaya hidup ramah lingkungan!

 

 

Sarasehan Sehari Ditjen EBTKE

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Newsflash

Thursday, 02 December 2010 09:28

Sarasehan EBTKE

Jakarta. Selasa 2 November 2010, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) mengadakan Sarasehan untuk membahas Roadmap Energi Baru Terbarukan yang bertempat di Nareswara, Gedung Smesco – UKM. Acara yang bertema " Memperkuat Jaringan Komunitas Energi Baru Terbarukan dalam rangka Pencapaian Visi Energi 25/25". Visi Energi 25/25 menekankan kepada 2 hal penting yaitu upaya konservasi energi di sisi pemanfaatan untuk menekan laju penggunaan energi nasional, dan upaya diversifikasi energi di sisi penyediaan dengan mengutamakan energi baru terbarukan.

Pembicara yang hadir diantaranya dari Pemerintah yaitu Dirjen EBTKE-ESDM, Kepala BPPT, Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Industri, Deputi Bidang Usaha Strategis dan Manufaktur Kementerian BUMN, dan Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Ikllim Kementerian Lingkungan Hidup. Sedangkan dari non Pemerintah hadir perwakilan dari setiap klaster energi baru dan energi terbarukan yaitu Abadi Poernomo (Panas Bumi), Paulus Tjakrawan (Bahan Bakar Nabati), Djoko Winarno (Minihidro dan PLTA), Donny Achiruddin (Energi Samudra), Nany Wardhani (Energi Surya), Soeripno (Energi Angin), Agus Nugroho (Biomass), Sutaryo Supardi (Energi Nuklir), Achyar Oemri (Fuel Cell), dan Samy Hamzah (Coal Bed Methane).

   

SEMINAR ON NEW ENERGY EFFICIENCY IN BUILDING SECTOR AND LABELING STANDARD FOR AIR CONDITIONER AND REFRIGERATOR IN INDONESIA

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Agenda - Nasional

Wednesday, 01 December 2010 22:50

Speakers
Dr. Ir. Luluk Sumiarso, MSc.
Director General of New, Renewable Energy and Energy Conservation
Ministry of Energy and Mineral Resources (Kementerian ESDM)

Ir. Murtaqi Syamsuddin, MM.
Direktur Bisnis dan Manajemen Resiko, PLN

SATURDAY - DEC 11th, 2010
09:00 – 15:30
Venue: Sasana Budaya Ganesha (SABUGA-ITB)
Jl. Tamansari no. 73 Bandung

  • Keynote: Government Policy and Regulation for Energy Efficiency in Buildings by Dr. Ir. Luluk Sumiarso, MSc., Director General of New, Renewable Energy and Energy Conservation, Ministry of Energy and Mineral Resources (Kementerian ESDM)
  • Energy Cost and Projected Energy Supply & Demand by Ir. Murtaqi Syamsuddin, MM., Director of Business and Risk Management PT PLN (Persero)
  • SNI in Energy Efficiency Area as Building Standard by Totok Sulistiyanto, ASHRAE Indonesia Chapter
  • Towards Zero Carbon New Buildings and Deep Renovation of Existing Buildings by Poul Erik Kriestensen, IEN Consultants Sdn. Bhd.
  • Climate Control Design for the Humid Tropic & Improved IAQ Design for Today's Crowded City by Benjamin Kwek, ETHA Engineering Pte. Ltd.
  • Energy Efficiency Linkage with Green Building Concept by Rana Yusuf Nasir, Green Building Council Indonesia

Seminar Fee Rp 350.000
Exclusive for ASHRAE dan GBCI member only Rp 150.000
Free of charge for Reporter and Media
For Registration, please contact:
022‐2009778
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Latest on Dec 7th, 2010

 

KELISTRIKAN NASIONAL DAN SOLUSINYA

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Perspektif - Pemerintahan

Sunday, 28 November 2010 19:07

Oleh : H.Achmad Rilyadi, SE

Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, Republik Indonesia (DPR-RI)

(Fraksi Partai Keadilan Sejahtera)

Majalah Energi : Edisi November 2010

Pada 1 Juli 2010 lalu, pemerintah menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) dengan rata-rata kenaikan 10% dan kenaikan tertinggi adalah 18% pada sektor pelanggan rumah tangga yang berdaya diatas 900 watt. Kenaikan tersebut sudah disahkan dan tidak dapat diganggu gugat. Kenaikan tersebut dilakukan pemerintah dengan alasan klasik yaitu pengurangan subsidi dalam rangka subsidi silang pada sektor lainnya. Seringkali alasan yang dikemukakan oleh pemerintah adalah dalam rangka pengurangan subsidi listrik sehingga dapat memberikan subsidi silang pada sektor pembiayaan lainnya, yang pada kenyataannya subsidi silang yang diharapkan tidak pernah terjadi atau tercapai. Jelas, tindakan ini menggambarkan adanya upaya terselubung yang dibungkus rapih oleh pemerintah dalam permasalahan kenaikan TDL di tahun 2010 ini. Kenaikan TDL tahun 2010 ini, menggambarkan seakan-akan pemerintah tidak peka terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang masih mengalami krisis. Kenaikan dilakukan menjelang bulan puasa dan lebaran dimana aktivitas ekonomi masyarakat meningkat tajam. Belum lagi harga kebutuhan pokok perlahan naik dikarenakan kondisi alam yang tidak mendukung sektor pertanian.

 

   

Renewable Energy for Sustainable Bridge

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Nasional

Sunday, 28 November 2010 18:23


Majalah Energi : Edisi November 2010
Jakarta, Senin 11 Oktober 2010
, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Dirjen Bina Marga Djoko Murjanto bersama dengan Tim Jembatan Selat Sunda (JSS) Kementerian PU menerima kedatangan Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membahas pembangunan jembatan antar pulau di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, direkomendasikan pemakaian sumber energi terbarukan untuk kebutuhan penggunaan energi listrik di jembatan. Hal tersebut dirangkum dalam konsep Renewable Energy for Sustainable Bridge.

Pada 2014 Jembatan Selat Sunda diharapkan sudah mulai pembangunan dengan perkiraan waktu penyelesaian 5 -10 tahun. JSS diprediksi akan menjadi kawasan strategis. Untuk itu, diperlukan diperlukan rencana pembangunan yang matang untuk dapat menyatukan 80% potensi perekonomian di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

 

 

KISRUH MIGAS PASCA UU MIGAS NO. 22 TAHUN 2001

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Perspektif - Akademisi

Wednesday, 24 November 2010 17:50

Oleh :

Ridwan Aldilah (Mentri Koordinator Kebijakan Publik Kabinet KM-ITB)

Ratna Nataliani ( Deputi Kajian Bidang Energi Kabinet KM-ITB)

Beberapa bulan terakhir, dunia energi Indonesia terutama yang berhubungan dengan minyak dan gas, baik secara langsung maupun tidak mengalami gejolak yang tak menentu. Naiknya harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik dan berbagai produk migas terjadi secara serentak di hampir seluruh penjuru negeri. Hal ini terjadi akibat produksi migas yang terus menurun secara konsisten. Penurunan jumlah produksi minyak bisa kita lihat dari perbandingan produksi minyak tahun 2002 yang mencapai 1,25 juta barrel per tahun hingga 2009 yang hanya 956 ribu barrel per tahun. Produksi gas bumi nusantara yang menjadi kebanggaan Indonesia pun ikut terpengaruh dengan pertumbuhannya yang menurun tajam pada 2008-2009. Penurunan produksi migas nasional terjadi karena beberapa hal yaitu buruknya kegiatan hulu atau kegiatan eksplorasi dan berakibat iklim investasi Indonesia tak lagi menarik bagi investor. Pasalnya, untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksplotasi, para investor harus melewati berbagai kerumitan panjangnya proses birokrasi. Pungutan resmi seperti pajak maupun tidak resmi (pungutan liar) oleh pemerintah daerah setempat semakin menggerahkan investor bahkan ketika kegiatan eksplorasi pun belum dimulai sama sekali. Penurunan produksi migas juga diperparah dengan minimnya partisipasi BUMN seperti Pertamina dalam perannya sebagai Public Service Obligation (PSO). Akibatnya selama ini keuntungan negara dari sektor migas tidak merefleksikan adanya peningkatan kesejahteraan rakyat.

   

TELAH TERBIT EDISI CETAK MAJALAH ENERGI

Attention: open in a new window. PDFE-mail

Berita - Terbaru

Wednesday, 10 November 2010 12:04

edisi cetak majalah energi

MAJALAH ENERGI - EDISI NOVEMBER 2010

FOKUS
Diresmikannya Dirjen EBTKE-ESDM

Visi Misi EBTKE 25/25, dengan 3 sasaran utama yang ingin dicapai pada 2025:

Perubahan skenario dari Business as Usual (BaU) ke skenario RIKEN (Rencana Induk Koservasi Energi Nasional).

Komitmen Efisiensi Pemanfaatan Energi pada seluruh sektor.

Memaksimalkan Pemanfaatan EBT sebesar 25 % dalam bauran energi nasional.


FOKUS

Nenny Saptadji, Ph.D.: “Energi Panas Bumi Untuk Bangsa”

Potensi energi panas bumi di Indonesia sekitar 28.170 MW atau 30-40% potensi dunia. Pemerintah merencanakan peningkatan kapasitas PLTP (Pembangkit Listrik Panas Bumi) hingga 9.500 MW pada tahun 2025, dari kapasitas total saat ini 1.189 MW.


BERITA TERBARU

Renewable Energy for Sustainable Bridge

Jembatan Selat Sunda akan dibangun pada tahun 2014. Diusunglah paradigma baru dalam pembangunan jembatan di Indonesia dengan potensi energi terbarukan (renewable energy) yang dapat dipanen (energy harvesting) di sekitar jembatan adalah energi surya, angin, dan laut.


TOKOH

Prof. Ariono Abdulkadir - Staf Ahli Direksi PT. PLN (Persero)

“Menurut saya, orang Indonesia sudah cukup mampu menangani nuklir!”

 

 

Sirkulasi, Iklan, dan Berlangganan Hubungi:
Majalah Energi.
Jln. Titiran No 7 Lantai 2, Bandung.
Telp: 0856-2076-323.

website: http://majalahenergi.com.
email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Innovation of Engineering Physics Expo

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Monday, 06 September 2010 16:12

 

Dalam upaya menyalurkan ide-ide kreatif mahasiswa Indonesia untuk menyiasati ancaman kelangkaan persidiaan energi di Negara kita  yang semakin menipis, Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika ITB dan Kelompok Keahlian Teknik Fisika ITB merasa perlu untuk membentuk kegiatan yang diharapkan dapat menjadi wadah bertukar ide-ide kreatif dan menghasilkan inovasi yang dapat menjadi solusi untuk beberapa permasalahan energi di Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka memperingati dan turut memeriahkan Ulang Tahun Pendidikan Teknik Fisika di Indonesia ke-60, kami bermaksud menyelenggarakan kegiatan Innovation and Engineering Physics Expo 2010 yang di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan (Pameran Karya Teknologi , Lomba Inovasi, Mini Museum Perkembangan Teknologi, dan Pameran Industri) dengan tema “PERKEMBANGAN TEKNOLOGI ENERGI”.

Sehubunggan dengan hal tersebut, kami mengundang mahasiswa-mahasiswi yang merupakan para inovator muda dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk dapat berpartisipasi sebagai peserta dalam kegiatan Lomba Inovasi yang bertemakan “TEKNOLOGI ENERGI TEPAT GUNA UNTUK MASA DEPAN INDONESIA ”. Karya yang dilombakan meliputi inovasi; sistem penggenerasi energi, sistem penyimpanan energi, sistem pengoptimalisasi dan penghematan energi,  atau sistem peralatan baru yang dapat melakukan penghematan energi secara signifikan.

Kegiatan lomba inovasi ini dimulai dengan seleksi naskah karya inovasi yang dibuka dari tanggal 23 Agustus  sampai  26 September 2010 melalui (keterangan lengkap terlampir). Peserta yang lolos seleksi naskah dapat melanjutkan ke babak final di Kampus ITB Jl. Ganeca no. 10 Bandung untuk mempersentasikan inovasinya di depan juri dan mendapat tempat yang sangat terhormat untuk memamerkan karyanya di Pameran Karya Teknologi IEPE 2010, pada tanggal 4 – 5 November 2010.

   

Bakteri Penghasil Sumber Energi

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Wednesday, 01 September 2010 09:11

 

(http://www.upsaps.com)

 

Seperti yang telah kita ketahui bersama, energi fosil yang merupakan sumber energi utama pada saat ini, berasal dari jasad renik makhluk hidup yang terkubur berjuta-juta tahun lalu. Jasad-jasad renik tersebut diuraikan oleh bakteri-bakteri ataupun mikroorganisme di dalam tanah sehingga mengalami pengubahan bentuk menjadi minyak bumi, gas alam, maupun batu bara. Hal itu menggambarkan bahwa bakteri-bakteri berperan penting dan besar dalam pembentukan sumber energi fosil yang kita pergunakan selama ini.

Bakteri metanogen merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat menghasilkan sumber energi. Sumber energi yang dapat dihasilkan oleh bakteri ini adalah biogas. Biogas merupakan gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Proses fermentasi (penguraian material organik) tersebut terjadi secara anaerob (tanpa oksigen). Biogas terdiri atas beberapa macam gas, antara lain metana (55-75%), karbon dioksida (25-45%), nitrogen (0-0.3%), hydrogen (1-5%), hidrogen sulfida (0-3%), dan oksigen (0.1-0.5%). Persentase terbesar dalam biogas ini, metan, membuat gas ini mudah terbakar dan dapat disamakan kualitasnya dengan gas alam setelah dilakukan pemurnian terhadap gas metan.

 

Sumber Energi yang Tidak Akan Habis

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Wednesday, 01 September 2010 08:58

Permintaan akan kebutuhan energi setiap tahunnya terus bertambah, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat. Selama bertahun-tahun, energi fosil (minyak bumi, gas alam, dan batu bara) merupakan sumber energi utama untuk memenuhi kebutuhan energi dunia. Namun, sumber energi ini merupakan sumber energi yang akan habis dan tidak dapat diperbaharui. Oleh karena itu, demi memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat, para peneliti di dunia terus mengembangkan sumber energi alternatif yang dapat dipergunakan sebagai pengganti energi fosil. Salah satu sumber energi alternatif yang cukup populer adalah energi sinar matahari. Energi sinar matahari atau yang sering disebut dengan energi surya, merupakan energi yang berasal dari matahari dan termasuk golongan sumber energi yang tidak akan habis dan tidak terbatas jumlahnya.

 

Potensi matahari sebagai sumber energi sangat besar. Hal ini dikarenakan jumlah energi matahari yang sampai ke bumi sangat besar, sekitar 700 Megawatt setiap menitnya. Negara-negara yang berada di garis khatulistiwa memiliki potensi besar untuk memanfaatkan energi ini, karena intensitas sinar matahari pada daerah ini cukup besar dan stabil sepanjang tahun, yaitu sekitar 4,8 kWh/m2/hari. Energi surya semacam ini merupakan modal dasar untuk pengembangan sumber energi terbarukan dengan konversi energi surya menjadi listrik melalui sel surya.

   

Memanen Petir Sebagai Sumber Energi? Mengapa Tidak!

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Tuesday, 31 August 2010 13:16

Selain tenaga matahari, angin, dan gelombang air, ada pula sumber tenaga lain yang bersifat dapat diperbarui. Periset tengah menguji coba penggunaan tenaga itu dengan alat yang dapat menarik listrik dari udara. Benar, energi baru itu adalah listrik di udara yang memicu terbentuknya kilat dan petir..

Selama berabad-abad, ilmuwan terkesima dengan idea memanfaatkan kekuatan guntur. Seorang ilmuwan, Nikola Tesla, bereksperimen luas dengan topik tersebut, namun pemahaman nyata di bidang elektrodinamika atmosfer hingga kini masih sulit dipahami.

Sementara, Fernando Galembeck, ilmuwan dari Universitas Campinas, Brazil, baru-baru ini menyajikan laporan di Pertemuan Nasional Masyarakat Kimia Amerika ke-24, yang mengulas detail masa depan, di mana setiap rumah akan memiliki piranti di atas atap yang dapat menarik listrik murah dan bersih dari udara. "Seperti halnya energi matahari yang dapat diperoleh bebas oleh rumah tangga dengan memasang sel solar sehingga mereka tak perlu lagi berlangganan listrik, sumber energi baru ini pun menjanjikan hal serupa," ujarnya.

Pada intinya, ilmuwan meyakini bahwa tetesan air di atmosfer adalah partikel listrik netral dan tetap seperti itu meski bergesekan dengan listrik dari partikel debu atau cairan lain, Hanya saja, Galemback menemukan, berdasar serangkaian percobaan di laboratorium, bahwa tetesan air itu sebenarnya mengambil daya listrik.

Ia menggunakan partikel silika dan aluminium fosfat, jenis partikel debu yang sangat umum di udara, dan menemukan bahwa mereka kapasitas daya listrik mereka meningkat ketika jumlah uap air meningkat di udara. "Ini adalah bukti nyata bahwa air di atmosfir dapat mengakumulasikan daya listrik dan mentransferkan ke material lain yang bersentuhan dengannya," ujar Galemback.

Berdasar penemuan itu, imbuh Galembeck, sangat mungkin memanen  "listrik air" dari udara terutama di wilayah dengan kelembaban tinggi, seperti kawasan tropis. Untuk mengawali kemungkinan industri ini, tim Galembeck, sudah mulai mengetes sejumlah logam untuk melihat mana yang paling sensitif dalam menangkap listrik di atmosfer pada panel higroelektrik.

Pemasangan panel higroelektrik ternyata dapat juga mencegah kerusakan akibat kilat dan petir, dengan menempatkan panel untuk menangkap daya listik di udara pada titik yang kerap dihantam petir. "Ini ide yang mengagumkan bahwa studi yang kami lakukan sendiri dan tim lain menyatakan kemungkinan itu sangat besar," ujar Galemback.

"Tentu jalan menuju ke sana masih panjang. Namun keuntungan jangka panjang memanfaatkan energi listri air dari udara bisa menjadi sangat berarti." Memang tak ada yang sia-sia dari semua ciptaan Allah. (republika.co.id/ humasristek)

 

Biogas Menghilangkan Sampah Organik

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Tuesday, 31 August 2010 09:07

Permasalahan utama kebersihan yang selama ini masih belum terselesaikan secara tuntas, salah satunya merupakan sampah. Kebersihan dapat terjaga dengan pengelolaan sampah terpadu. Pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan hanya berupa penimbunan sampah secara besar-besaran tanpa ada pemilahan atau pun pengelolaan sampah lebih lanjut. Pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, organik dan non-organik, pendaurulangan sampah, pembakaran sampah pada suhu sangat tinggi, ataupun penggunaan reaktor biogas untuk mendegradasikan sampah merupakan beberapa cara pengelolaan sampah secara terpadu yang dapat dilakukan untuk menggantikan penimbunan sampah yang menghasilkan banyak permasalahan.

Reaktor biogas yang mempergunakan sampah sebagai sumber penghasil gas, merupakan solusi bagi permasalahan sampah organik. Persentase sampah organik yang cukup besar, sekitar 64%, merupakan potensi yang cukup baik bagi pengolahan sampah organik dengan mempergunakan reaktor biogas. Dengan mempergunakan reaktor biogas, pengolahan sampah organik dapat ditangani dengan lebih baik.

Pengolahan sampah yang dilakukan dengan cara penimbunan sangat beresiko mencemari udara dan tanah. Pencemaran udara yang dapat ditimbulkan dari penimbunan sampah yaitu aroma yang tidak sedap dan penghasilan gas metan yang merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca. Aroma sampah yang tidak sedap sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Efek rumah kaca yang terjadi pada atmosfer bumi, dapat menyebabkan pemanasan global yang dampaknya sudah mulai kita rasakan sekarang. Sedangkan pencemaran tanah dapat terjadi karena penghasilan lindi yang sangat beracun oleh timbunan sampah. Lindi merupakan cairan hitam berancun yang dapat meracuni air tanah dan menurunkan tingkat kesuburan tanah.

Pemanfaatan reaktor biogas dalam pengelolaan sampah organik dapat menurunkan resiko pencemaran udara maupun tanah. Hal ini dikarenakan proses yang terjadi dalam reaktor biogas tidak menimbulkan bau yang menyengat, sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu. Selain itu, gas metan yang dihasilkan dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sehingga tidak langsung terbang ke udara. Lindi yang dihasilkan oleh proses degradasi sampah pun tertampung dalam reaktor yang bermanfaat untuk memperbesar produksi biogas pada reaktor.

Biogas yang dihasilkan oleh reaktor biogas memiliki persentase gas metan terbesar sekitar 55-75%. Gas metan yang memiliki sifat mudah terbakar ini dapat dipergunakan sebagai pembangkit listrik dan sumber gas pengganti gas elpiji. Potensi gas metan untuk menjadi sumber pembangkit listrik sangat besar di kala krisis energi yang sedang terjadi saat ini. Selain itu, penyuluhan pada masyarakat mengenai manfaat reaktor biogas pada skala kecil dapat sekaligus menangani permasalahan sampah pada sumbernya.

Sisa dari proses degradasi sampah yang terjadi dalam reaktor biogas tidak mencemari lingkungan. Hasil sampingan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berkualitas tinggi. Penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan tidak akan memberi efek penurunan kualitas tanah, bahkan produksi pertanian akan meningkat. Berbeda dengan pupuk kimia yang jika dimanfaatkan secara berlebihan dalam pertanian dapat menurunkan kualitas tanah sehingga mengurangi produksi pertanian.

Seluruh keunggulan di atas menjadikan reaktor biogas salah satu alternatif yang potensial dalam melakukan pengolahan sampah terpadu.

 

kontak : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

   

Validkah IKE bangunan Anda?

Attention: open in a new window. PDFE-mail

Berita - Terbaru

Monday, 31 May 2010 17:58

Oleh: Lukman Agus, MT  (Ahli Audit Energi Dalam Bangunan)

Bangunan komersial yang anda huni atau kelola telah selesai diaudit tingkat konsumsi energinya. Kemudian besar konsumsi energi yang didapatkan tersebut dibagi dengan jumlah luas lantai produktif sehingga didapatkan besaran KWh/m2 untuk bangunan. Dapatkah hasil perhitungan ini secara langsung dibandingkan dengan standard IKE untuk menentukan bangunan anda hemat atau boros listrik???

Dapatkah bangunan hotel di Jakarta dan bangunan hotel di Aceh diperbandingkan langsung hasil pengukuran KWh/m2 nya (untuk mencari hotel mana yang paling hemat) ??

 


 

Diambil dari buku panduan efisiensi energi di hotel

http://www.pelangi.or.id/

Data konsumsi energi tersebut tidak dapat diperbandingkan secara langsung dan tidak dapat ditarik kesimpulan apapun, karena mungkin terdapat beberapa hal berpengaruh, diantaranya yakni :

  • Bangunan tersebut terletak pada lokasi dengan iklim yang berbeda
  • Bangunan tersebut mengalami tingkat pemaparan (level of exposure) sinar matahari yang berbeda (orientasi arah bangunan)
  • Bangunan tersebut mempunyai waktu operasi yang berbeda.

Untuk memperbandingkan data IKE tersebut maka IKE tersebut harus dinormalisasikan terhadap faktor-faktor diatas atau yang biasa disebut dengan NPI (Normalized Performance Indicator)

  • Sudahkah anda memperhitungkan faktor-faktor tersebut dalam membandingkan IKE??
  • Sudahkah standard acuan nilai IKE mis. dari SNI (yang anda gunakan sebagai pembanding) menjelaskan prosedur untuk mendapatkan NPI?
 

Pengantar : Manajemen Energi Perusahaan

Attention: open in a new window. PDFE-mail

Berita - Terbaru

Tuesday, 25 May 2010 15:36

Oleh: Lukman Agus, MT  (Ahli Audit Energi Dalam Bangunan)

Bidang manajemen energi telah lama sekali beredar, setidaknya saya ketahui ini dari “Energy Management Handbook” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1942. Buku tersebut ditulis oleh Wayne C. Turner dan Steve Doty sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Maksud mengatakan hal tersebut semata-mata hanya ingin menunjukkan bahwa topik manajemen energi ini merupakan ilmu yang sudah cukup lama berkembang. Kepopuleran dari topik ini dipengaruhi oleh harga energi dunia dan kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk menekan pengeluaran energi.

Ditengah krisis global yang melanda bangsa, baik krisis ekonomi yang membayangi, krisis kepercayaan terhadap pemerintah, krisis moral, dan krisis energi (ini nih yang mau dibahas), masih saja kita sebagai bangsa bersikap boros. Kita masih boros mengkonsumsi energi, baik itu dalam bentuk energi listrik ataupun bahan bakar minyak dan gas. Hal ini tidak saja dilakukan oleh para penduduk kota yang lebih senang bermacet-macet membuang bahan bakar dijalan raya, akan tetapi juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan baik dalam proses produksi ataupun dalam pengoperasian gedung perkantoran/komersial.

Manajemen energi bagi sebuah perusahaan setidaknya akan mendatangkan dua buah keuntungan, yakni keuntungan finansial dan keuntungan lingkungan. Manajemen energi dapat membantu terwujudnya short-term survival suatu perusahaan pada saat harga energi mahal ataupun saat energi tidak tersedia karena perusahaan utilitas tidak mampu memenuhi permintaan (pemadaman bergilir). Selain itu, manajemen energi juga dapat membantu terwujudnya long-term success karena perusahaan dapat bersaing dengan baik dengan memberikan penawaran terbaik pada harga yang relatif murah. Sisi lain dari penerapan manajemen energi ini adalah menonjolkan peran perusahaan membantu memerangi global warming, polusi, serta hujan asam (diurut berdasarkan kepopuleran saat ini). Dengan mengkonsumsi lebih sedikit energi berarti mengurangi polusi termal dan penggunaan air pendingin, yang intinya dapat membantu meningkatkan kualitas lingkungan.


   

Renewable Energy and the Utility: The Next 20 Years

Attention: open in a new window. PDFE-mail

Berita - Terbaru

Monday, 24 May 2010 22:10

Texas, United States -- The focus on the transition to renewable energy, energy efficiency programs and legislation surrounding these areas is spurring tremendous change in the utility industry. A lot of money and effort are being funneled to the research, development and deployment of clean energy technologies. The federal debate over fuels, technologies and the legislation supporting them has reached a fever pitch.

The utility industry is undergoing fundamental change. The extreme change sometimes envisioned-that utilities will disappear-is not likely. The future utility will almost certainly be a hybrid of centralized power plants and massive distributed generation, combined with a much more efficient system of both generation and consumption. But the business model of the utility and the relationship between utility and customer will be radically different.

Nearly every utility is aware of these looming changes; even those who have opposed this transition are hedging their bets by testing renewable generation and smart grid deployment. The elephant in the room that is being ignored by the utilities and the renewable energy community alike is that this new distributed generation is a significantly disruptive technology and the commodity-focused economics of America's 100-year-old utility industry is aging out. Few, if any, utilities seem to be working on finding a new business model that will successfully mitigate these twin threats.

renewableenergyworld

 

What Do You Think Will Happen To Renewable Energy?

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Berita - Terbaru

Monday, 24 May 2010 21:58

We are looking for your hopes and fears for the year ahead. What do you believe is the best that the renewable energy sector can achieve over the next 12 months? In the Big Question feature for its showpiece annual review issue, Renewable Energy World magazine is asking readers to offer their vision of a realistic best case scenario for the sector in one year’s time, given the state of the market as it stands now, and to outline what needs to happen to make that best case a reality.

On the other side of the coin, we are also inviting readers to offer their warnings of the worst case scenario. What are the factors that could damage the renewables sector over the next year and how, if they are not addressed, might that leave it in bad shape going into the latter half of 2011?

The most thought-provoking responses to The Big Question will be published in Renewable Energy World magazine’s annual review issue, which includes our comprehensive guide to renewable energy companies and services, and is distributed for the next 12 months.

Please give us your best case scenario, your worst case scenario, or both. You can address a particular area of renewable energy or take a broad view of the entire sector. Best or worst case responses should run to no more than 300 words each.

Responses should be left in the commet box below and/or e-mailed to This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it and should reach us no later than 7th June, 2010.

Looking forward to your input!
renewableenergyworld

   

Page 5 of 5

«StartPrev12345NextEnd»

Joomla SEO powered by JoomSEF
Banner